Selasa, 17 Januari 2012
Angin pagi
Kenapa judulnya 'Angin Pagi' ? sebab kalau judulnya embun pagi tentu sudah biasa dan banyak sudah orang menafsirkan. Oleh karennya saya pilih angin pagi, Angin pagi rasanya lebih bergairah, tidak saja hembusannya yang dingin dan sejuk namun juga berenergi, bahkan melihat ranting-ranting itu...wah kencang juga tuh anginnya.
Minggu, 08 Januari 2012
pagar
Pagar, adalah batas antara yang dilarang dengan yang dibolehkan. Terserah anda akan memaknai apa lukian ini
(Photoshop, 60 x 30 Cm)
Sabtu, 07 Januari 2012
Jumat, 09 Desember 2011
Fragments
Fragmen, barangkali itulah judul yang tepat untuk lukisan ini. Serpihan saling bersilang dan bertaburan. Kendati begitu, syukurlah bila masih ada harmonisasi dan greget di situ. Lukisan ini saya awali tanpa pretensi apapun. Ia bermula dari sebuah garis dan noktah yang kemudian berkembang dan terus berkembang bagaikan sesuatu yang hidup dan berinteraksi mengikuti gejolak sensasi. dalam batin saya ketika itu.
Rabu, 10 Agustus 2011
Apakah Harus Berkomentar
Mengomentari
Lukisan Tak Harus Menjadi Kritikus Seni
Pada dasarnya seniman akan menyukai
komentar dari penikmat karyanya. Namun begitu seniman akan lebih menghargai
sebuah komentar yang tidak sekadar: Wah
karya ini bagus! Atau “ saya suka banget, wonderfull! Atau “ ih lukisan gak
berbobot di pajang di sini” Oleh karenannya berikan sedikit argument pribadi
mengapa Anda mengatakan begitu, seberapa pun kadar apresiasi atau pengalaman
seni Anda, tak menjadi soal. Sebab komentar Anda (sebut saja: kritik) akan
menjadi energy bagi seniman bahkan orang lain sesame penikmat lukisan.
Setiap kita dikaruniai sens of art atau
dalam kata lain, bahwa kita semua memiliki fitrah keindahan sebagai karunia
Ilahi. Oleh karenannya dalam memberikan kritik tidak harus bergelar kritus seni
yang mengetahui blantika seni dan sejarahnya atau jadi seniman terlebih dahulu.
Jadi demokratis saja, semua kita punya hak berpendapat dan mengungkapkannya.
Sederhananya, katakan saja kenapa Anda menyukai atau tidak menyukai sebuah
lukisan, atau ketika menikmati lukisan terbersit sesuatu yang ingin anda
sampaikan kepada sang artis, katakan saja secara bebas. Satu hal, cobalah
hilangkan perasaan bahwa anda harus mengomentari seluruh elemen lukisan sehingga
menjadi beban. Sebab satu dua komentar sederhana atau singkat namun beralasan
sudah cukup berarti bagi si pelukis.
Anda tidak perlu takut melukai perasaan
si pelukis, sebab apapun yang Anda katakan adalah resiko logis yang harus
diterima oleh si pelukis yang justru akan menjadikan obat mujarab baginya.
Namun juga perlu kita sadari bahwa si seniman berhak pula menerima atau
menolak. Pelukis yang baik akan memberi argument atas semua kritik dan itu
adalah haknya. Sebagaimana kita
mengarungi hubungan baik antar sesama manusia, maka selayaknya, sepedas apa pun
kritikan atau komentar Anda sampaikanlah dengan adab sopan santun dan
landasi dengan keikhlasan dan kejujuran serta alasan logis.
Nah, sebagai sepanjang yang saya tahu, biasanya bagi kita yang awam, ketika menikmati sebuah lukisan, akan terbersit pertanyaan lukisan “apa” ini dan berusaha menemukan jawabnya. Pada tingkat apresiatif berikutnya, timbul pertanyaan “gimana nih teknisnya”. Padi tingkat sedikit lebih tinggi : “ kenapa ya pelukis ini melukis seperti itu” begitu seterusnya sampai menelisik kehidupan pribadi dan sejarah si pelukis bahkan membanding-kaitkan dengan fenomena lain-lain sekitar pelukis, dan lukisannya itu. Temuan pengamatan atau lintasan subyektif kita atas jawaban itulah yang akan menjadi esensi komentar kita, dan jujur saja, apapun yang anda tanyakan kemudian menjadi temuan Anda, itulah yang dibutuhkan si pelukis atau penikmat lain dalam memperkaya pengalaman berkesenian. Dan oleh karena dalam dunia seni (seni murni) unsure subyektif lebih dominan, maka semuanya menjadi sah-sah saja, sepanjang tak keluar dari koridor akhlak dan syariat agama.
Oke, sahabat, bila anda Anda setuju
dengan tulisan ini atau dengan salah
satu lukisan, silahkan memberi komentar atau kritik kepada lukisan-lukisan
saya. Sepedas atau semanis apapun tetap akan saya kunyah-kunyah kenikmatannya, amalkan
juga dengan memberi jempol (fb). Itu saja. Dan bila Anda berminat mendapatkan
print lukisan tersebut di atas kanvas, jangan
sungkan menghubngi saya he..he.. Trims ya.
Senin, 15 November 2010
Teknik Melukis Digital
Sahabat, agak lama juga saya tak melukis. Tentu hal itu karena kesibukan saya yang lain ya.. Nah untuk menghilangkan kesan kevakuman, saya sajikan salah satu tutorial, setidaknya bagi para pemula dapat menjadi motivasi. Selanjutnya sahabat bisa cari sendiri tutorial semacam ini dengan tema yang lebih beragam. Ok, silahkan KLIK INI. Dan jangan lupa kembali ke sini ya
Minggu, 09 Mei 2010
Seni Rupa Konvensional, Seni Rupa Digital
Menangkap Perbedaan
Seni Rupa Konvensional dengan Seni Rupa Digital
Saat ini Internet telah menjadi ajang efektif semesta maya pasar dunia. Hampir seluruh kebutuhan hidup kita dapat ditemukan dangan transaksi secara online : buku, baik e-book maupun fisik, tiketing, gadget, mobil, rumah, kapal pesiar mewah, dan banyak lagi termasuk hasil karya seni rupa.
Kita akan sedikit membahas tentang yang disebut terakhir itu, khususnya dalam kaitan status seni rupa konvensional dan seni rupa rekayasa komputer.
Ketika anda browsing galeri seni online, anda akan menemukan karya seni rupa baik yang konvensional maupun seni (rupa) digital. Kita sebut seni rupa konvensional, bila dalam proses penciptaannya memang mengelaborasi benda-benda fisik. Sebaliknya seni digital, proses penciptaannya sepenuhnya memanfaatkan kecanggihan sarana komputer alias tidak menggunakan medium fisik. Pada hasil akhir, Keduanya terkadang memiliki karakter dan visualisasi khas yang sama bahkan seni lukis digital bisa terlihat tampak nyata dalam tampilan tekstur, sapuan kuas dan lain sebagainya sebagaimana lukisan konvensional. Lalu apa bedanya?
Untuk lebih memahami perbedaan antara seni rupa dan seni digital, mari pertama mendefinisikannya. Fine art is defined as: Art (as painting, sculpture, or music) concerned primarily with the creation of beautiful objects. Jadi seni rupa didefinisikan sebagai: Seni (seperti lukisan, patung, atau musik) terutama terkait dengan penciptaan benda yang indah.
Sekarang, mari kita mendefinisikan seni digital. TheColumbia Electronic Encyclopedia explains that digital art is a contemporary art form where computer technology is manipulated to create distinctive works, bahwa seni digital adalah bentuk seni rupa kontemporer di mana teknologi komputer yang dimanipulasi untuk membuat karya yang berbeda.
Lukisan cat minyak yang indah dianggap seni rupa yang nyata karena ia dapat disentuh secara fisik berbagai unsur rupanya seperti tekstur (rasa permukaan) di bidang kanvas, sapuan kuas dan lain-lain, demikian juga kita dapat meraba berbagai lekukan pada karya seni patung. Kendati secara visual kita juga bisa mendapati hal itu pada seni digital namun hal itu dianggab tidak nyata karena memang muncul di permukaan monitor komputer atau layar video. Dengan demikian, pertanyaan yang sering muncul adalah sejauhmana legitimasi seni digital dapat dikatagori sebagai bentuk karya seni rupa murni.
Di sebagian kalangan, pertama, seni digital dianggap seni yang kurang bernilai karena sifatnya yang sangat mudah digandakan secara tidak terbatas sebagaimana umumnya karya fotografi, kedua, seni digital dianggap seni tak nyata secara fisik. Dan ada kecenderungan orang sulit mempercayai apakah seni lukis digital benar-benar hanya diproduksi secara terbatas (edisi terbatas) sebagaimana karya grafis murni ataukah sebaliknya.
Kita akan sedikit membahas tentang yang disebut terakhir itu, khususnya dalam kaitan status seni rupa konvensional dan seni rupa rekayasa komputer.
Ketika anda browsing galeri seni online, anda akan menemukan karya seni rupa baik yang konvensional maupun seni (rupa) digital. Kita sebut seni rupa konvensional, bila dalam proses penciptaannya memang mengelaborasi benda-benda fisik. Sebaliknya seni digital, proses penciptaannya sepenuhnya memanfaatkan kecanggihan sarana komputer alias tidak menggunakan medium fisik. Pada hasil akhir, Keduanya terkadang memiliki karakter dan visualisasi khas yang sama bahkan seni lukis digital bisa terlihat tampak nyata dalam tampilan tekstur, sapuan kuas dan lain sebagainya sebagaimana lukisan konvensional. Lalu apa bedanya?
Untuk lebih memahami perbedaan antara seni rupa dan seni digital, mari pertama mendefinisikannya. Fine art is defined as: Art (as painting, sculpture, or music) concerned primarily with the creation of beautiful objects. Jadi seni rupa didefinisikan sebagai: Seni (seperti lukisan, patung, atau musik) terutama terkait dengan penciptaan benda yang indah.
Sekarang, mari kita mendefinisikan seni digital. The
Lukisan cat minyak yang indah dianggap seni rupa yang nyata karena ia dapat disentuh secara fisik berbagai unsur rupanya seperti tekstur (rasa permukaan) di bidang kanvas, sapuan kuas dan lain-lain, demikian juga kita dapat meraba berbagai lekukan pada karya seni patung. Kendati secara visual kita juga bisa mendapati hal itu pada seni digital namun hal itu dianggab tidak nyata karena memang muncul di permukaan monitor komputer atau layar video. Dengan demikian, pertanyaan yang sering muncul adalah sejauhmana legitimasi seni digital dapat dikatagori sebagai bentuk karya seni rupa murni.
Di sebagian kalangan, pertama, seni digital dianggap seni yang kurang bernilai karena sifatnya yang sangat mudah digandakan secara tidak terbatas sebagaimana umumnya karya fotografi, kedua, seni digital dianggap seni tak nyata secara fisik. Dan ada kecenderungan orang sulit mempercayai apakah seni lukis digital benar-benar hanya diproduksi secara terbatas (edisi terbatas) sebagaimana karya grafis murni ataukah sebaliknya.
Cara pemirsa berinteraksi dengan seni rupa konvensional dan seni digital juga berbeda. Ketika kita menikmati sebuah lukisan cat minyak atau patung, maka kita berhadapan dengan obyek benda yang diam atau statis. Kita juga akan merasakan emosi pelukis atau seniman patungnya lewat sapuan kuas, paduan warna, tekstur, lekukan, tebal tipis dan lain-lain. Bila kita memiliki pengalaman estetis atau tingkat apresiasi tertentu, maka akan dengan mudah merasakan berbagai perasaan emosi dan sensasi pada lukisan tersebut. Hal ini berbeda ketika kita berinteraksi dengan karya seni digital. Boleh jadi kita berhadapan dengan penggabungan beberapa gambar, transisi, audio (suara), dan video (suara dan gambar), bahkan karya seni digital dapat berubah berdasarkan tindakan atau gerakan gerakan kita secara interaktif, misalnya dengan menggunakan teknologi layer sentuh, sensor gerak dan lain-lain. Apakah kemudian kita juga akan merasakan sensasi dan emosi pada karya demikian, tentu saja sangat bisa bahkan bisa lebih fantastis bukan?
Bila karya seni konvensional dapat ditampilkan di dinding, rak buku, tiang, atau sudut tertentu sehingga orang dapat menikmatinya, Maka seni digital membutuhkan penampilkan elektronik seperti pada karya-karya seni multimedia yang membutuhkan seperangkat computer, audio video atau tv panel. Namun begitu bukan berarti seni digital tak bisa tampil sebagaimana seni rupa konvensional. Dengan teknologi pencetakan hal itu bisa dilakukan, misalnya mencetak lukisan digital di atas kanvas dengan resolusi yang tinggi.
Jadi kembali kita bertanya apakah seni rupa digital masih dalam katagori seni yang tak nyata atau bahkan bukan seni murni? Untuk menjawab pertanyaan itu, tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut ketika melihat sebuah karya seni digital: Apakah itu indah? Apakah itu membangkitkan emosi? Jika Anda menjawab ya untuk salah satu dari pertanyaan-pertanyaan ini, maka seni digital memang seni rupa yang nyata : Nah mudah-mudahan Anda sudah dapat merasakan dan mengapresiasi kedua jenis karya senirupa itu tanpa sikap mendiskriminasi sebagaimana keangkuhan sebagian pelukis konvensional yang sering kali membanggakan diri dan karyanya.
Langganan:
Entri (Atom)

